INTISARI

Pada hakikatnya, penelitian ini mengkaji sebuah konsep yang terkandung dalam garap karawitan gaya Surakarta, yakni mungguh. Secara prinsip, masyarakat karawitan Jawa memaknai mungguh sebagai persoalan yang menyangkut tentang etika-estetika, nilai-nilai keindahan, dan keidealan pengrawit dalam menyikapi ricikannya. Yaitu, mulai dari sikap duduk, teknik memainkan atau menyuarakan alat, hingga ke persoalan musikal, yakni garap gendhing maupun ricikan. Mungguh (bahasa Jawa) memiliki pengertian yang relatif luas, tergantung pada konteksnya. Adalah berarti: patut atau pantes, manggon, trep, gathuk, dan penak (pantas, sesuai pada tempatnya, pas, cocok, dan enak).

Studi ini mengkaji secara tekstual, yaitu menempatkan karawitan Jawa sebagai sebuah teks (teks musikal), artinya sesuatu yang perlu dibaca dan ditafsir. Adapun fokusnya adalah menyoroti perkembangan mungguh pada garap, berikut pandangan-pandangan oleh para pengrawit khususnya di Surakarta. Karawitan dari kata dasar rawit yang berarti rumit, di dalamnya terkandung vokabuler garap yang multi tafsir. Kelenturan jenis musik ini menawarkan sejumlah alternatif garap, maka tidak mengherankan jika muncul banyak perbedaan pandangan, keyakinan, dan selera di antara para pengrawit. Dalam menggarap gendhing “klasik”, sebagian besar pengrawit selalu mempertimbangkan konsep-konsep estetika Jawa, salah satunya ialah mungguh. Mungguh sesungguhnya adalah persoalan kebiasaan, kelaziman garap yang telah mapan, disepakati secara kolektif oleh masyarakat karawitan Jawa. Bahkan, sifatnya sangat subyektif dan terikat oleh ruang dan waktu.

Untuk mengungkap dan mengkaji konsep mungguh, diperlukan teori atau konsep yang lebih besar sebagai payungnya, yaitu konsep garap. Konsep tersebut dipandang cukup relevan, karena pada hakikatnya mungguh adalah konsep estetika yang selalu melekat dan terkandung dalam konsep garap itu sendiri. Dalam penerapannya, konsep garap tersebut dielaborasi sesuai dengan tujuan dan kebutuhan penelitian ini, sehingga terwujud sebuah model baru.